DONGGALA – Pemantauan dan evaluasi anak-anak berisiko stunting di Kabupaten Donggala dilakukan secara komprehensif melalui kerjasama lintas sektor dan keterlibatan masyarakat. Serta pemanfaatan teknologi informasi untuk mempercepat deteksi dan intervensi. 

“Upaya ini terus kami perkuat untuk mencapai target penurunan stuntingsecara berkelanjutan,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Donggala, dr Syahriar. 

Pemantauan dan evaluasi terhadap anak-anak berisiko stunting di Kabupaten Donggala dilakukan melalui pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Pendataan dan Identifikasi Awal

Kami melakukan pendataan secara rutin melalui Posyandu, Puskesmas, dan kader kesehatan desa. Anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan atau memiliki faktor risiko (seperti berat badan lahir rendah, kurang gizi, dan infeksi berulang) dicatat dan dipantau lebih intensif.

2. Pengukuran Berkala

Setiap bulan, dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan status gizi oleh kader Posyandu dan petugas kesehatan. Data ini dimasukkan ke dalam aplikasi e-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) yang sekarang aplikasinya kita kenal dengan Apilikasi SIGIZIKIAuntuk dipantau secara digital dan terintegrasi.

3. Kunjungan Rumah dan Konseling Gizi

Anak-anak berisiko tinggi akan mendapatkan kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan dan kader untuk memberikan konseling gizi kepada orang tua, pemantauan pola makan, serta deteksi dini masalah kesehatan yang dapat memperparah kondisi.

4. Pemberian Intervensi Gizi Spesifik dan Sensitif

Dinas Kesehatan memberikan intervensi seperti pemberian makanan tambahan (PMT), suplemen zat besi, vitamin A, dan edukasi pola asuh serta kebersihan lingkungan. Kami juga bekerja sama dengan sektor lain seperti Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan untuk intervensi sensitif seperti sanitasi, akses air bersih, dan pendidikan ibu.

5. Evaluasi dan Pelaporan Berkala

Evaluasi dilakukan per triwulan dan tahunan melalui koordinasi lintas sektor di tingkat kabupaten, termasuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Hasil evaluasi digunakan untuk mengidentifikasi hambatan dan menguatkan strategi pencegahan dan penanganan stunting.

6. Pelibatan Masyarakat dan Pemerintah Desa

Kami melibatkan pemerintah desa dalam pemantauan dan pembinaan keluarga berisiko stunting melalui penggunaan Dana Desa. Dengan pendekatan ini, pemantauan lebih dekat dan berbasis komunitas.